Penulis : Mas Marco Kartodikromo
Penerbit : Penerbit Narasi
Membaca novel karya Mas Marco Kartodikromo
yg berjudul Student Hidjo, seolah kembali ke masa lalu ,masa dimana nilai-nilai
budaya tradisional dijunjung tinggi, masa dimana adat dan pangkat masih
diagungkan oleh masyarakat jawa.
Novel ini berseting di Jawa dan sebagian
di negri Belanda dimana kehidupan Hidjo saat sekolah di negri Belanda.
Novel ini ditulis pertama kali pada tahun 1918 dalam bentuk cerita bersambung di harian Sinar Hindia Belanda dan diterbitkan dalam bentuk buku tahun 1919. Novel ini yang menceritakaan tentang seorang pemuda pelajar pribumi yang dikirim ke negri Belanda untuk melanjutkan pendidikanya, dan terjadi konflik dan bergolakan batin dalm kehidupanya di negri Belanda. negri dimana di Hindia Belanda tempat kelahirannya orang-orang Belanda begitu di hormatinya,begitu semena-mena terhadap kaum biasa dan disana ia mengerti bahwa kehidupan tak jauh beda , bahkan di negri Belanda pun ada yang namanya jongos ( pembantu ) dan di negri ini ia seorang pribumi bisa memerintah orang belanda yang di negrisinya sendiri mustahil untuk dilakukan.
Ringkasan cerita
Hidjo seorang pemuda tekun , pendiam dan
terpelajar ditunangkan dengan anak
soudaranya bernama Birou yang kelak diharapkan bisa menjadi suami istri,. atas
keinginan ayahnya dan ingin mengangkat drajat di kehidupan sosialnya maka Hidjo dikirim ke negri belanda untuk
melanjutkan studynya sebagai seorang insinyur, karena di jaman itu hanya orang-orang
yang berpendidikan eropa / Belanda menjadi tolak ukur keberhasilan untuk
meningkatkan staus sosialnya, walau dengan berat hati dan kesedihan ia pun meninggalkan
orang-orang terkasihnya demi sebuah cita-cita.
Di negri Belanda Hidjo tinggal bersama keluarga
Belanda dengan anak perempuan seusianya, seiring berlalunya hari karena kepribadian Hidjou
yang santun, menarik, pendiam menarik
perhatian anak keluarga belanda bernama Betje , dan ia pun jatuh cinta
kepadanya.
Di Surakarta administrator belanda (
William walter) disuatu pesta melihat perempuan jawa yaitu Birou yang menarik
hatinya dan membuatnya jatuh cinta terhadap Birou.
Pertunganan wiliam dengan perempuan
belanda bernama Roos terbengkali karena adanya perasaan cinta Wiliam Walter
terhadap Birou, sehingga semakin memperparah hubungan antara wiliam dengan Roos.Namun perasaan cinta Wiliam terhadap Birou
bertepuk sebelah tangan, selanjutnya untuk mengurangi kesedihan ia memutuskan
untuk pulang ke negri belanda, di sana ia bertemu dengan Hidjo setelah
diberi tahu kerabat Hidjo bahwa anaknya
di negri belanda.
Sementara itu di negri belanda Hidjo
tidak bisa berkonsentrasi dengan studynya karena godaan-godaan cinta Bitje
hingga dia tak kuasa melawannya dan hanyut dalam lubang percintaan dan budaya
di sana. sehingga ia berfikir untuk segera
kembali ke Hindia Belanda setelah melalaui perenungan yang panjang.
Sementar di Solo terjadi perubahan
rencana yang dilakukan oleh kedua orang tua Hidjo, setelah kedatangan keluarga
Regent djarak ke Solo dan menginap di rumah Hidjou bersama anak yang
bernama R.A woengoe dan kakaknya R.M
wardojo.
Woengoe dan Warjodjo kakak beradik ini
sudah sangat mengenal Hidjo, ada perasaan cinta Woengoe terhadap Hijou, begitu pula
dengan Wardojo pun menaruh hati dengan Birou tunangannya Hidjo
Ahirnya atas kesepakatan diantara orang
tuanya bahwa Woengoe di jodahkan dengan Hidjo, sementara Wardojo di jodohkan
dengan Birou.
Walaupun dengan perjodohan cinta
diantara mereka pun lama-lama semakin tumbuh antara satu dengan yang lainya dan
berahir dengan kebahagiaan
Dua
tahun kemudian
Hidjou
telah kawin dengan R.A Woengoe dan hidup senang sebagai jaksa di Djarak,
Wardojo pun sudah menjadi Regent di Djarak mengantikan ayahnya, dia pun hidup
rukun dengan R.A Biroe
Semntara
itu Walter kembali dari verlof, ia menjadi assistant residen di Djarak dan
mepunyai istri yaitu Betje. adapun nona jet Roos menikah dengan administrateur Boeren, sahabat wiliam dan
juga bertempat tinggal di Djarak (
Student Hidjo hal 140 )
Nilai-nilai:
Bahwa pendidikan menjadi hal yang sangat
penting dalam mengangkat status social dimasa itu dan pendidikan eropa/ belanda
menjadi tolak ukurnya
Budaya tradisional jawa dan budaya belanda
sangat bertolak belakang dan akan sulit untuk dipersatukan.
Orang tua di masa itu berperan aktif
dalam penentuan calon suami atau istri anak-anaknya demi menjaga hubungan baik
dan mempererat hubungan kekeluargaan.
Membaca novel ini kita akan kembali
melalui lorong waktu ke masa tempo dulu,masa dimana kehidupan dan kultur masyarakat jawa masih terasa
begitu kental aroma zaman pergerakan.
@genk
sumber refrensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Student_Hidjo
dipost juga di www.kompasiana.com
No comments:
Post a Comment