Anak Semua Bangsa
Judul Buku :
Anak Semua Bangsa
Pengarang :
Pramoedya Ananta Toer
Penerbit :
Lentera Dipantara
Roman ini merupakan kelanjutan dari roman yang pertama yaitu Bumi Manusia karya
Pramoedya Ananta Toer. Anak Semua Bangsa masih bercerita tentang Minke,
Nyai Ontosoroh dan kehidupann di daerah wonokromo.
Dalam cerita sebelumnya kekalahan Nyai Ontosoroh dan
Minke terhadap peradilan eropa mengakibatkan istri tercinta Minke yaitu Annelise
harus berlayar ke Nederland untuk menetap di sana meninggalkan orang-orang yang
dicintai di Hindia.
Hal ini membuat kesedihan Minke dan Nyai Ontosoroh
semakin mendalam ditambah lagi harta yang ia punyai dari hasil perdagangan dan
usahanya siap –siap disita oleh Tuan Maurits Mellema, hari-hari berlalu diisi
dengan kesedihan akan kehilangan istri tercintanya, tak lama setelah menetap di
Nederland Anenelis meninggal dunia karena kesedihan terpisah antara jarak dan
waktu, kabar meninggalnya Annelis di ketahui dari kiriman –kiriman surat Panji
Darman yang sengaja diutus oleh Nyai Ontosoroh untuk mengikuti dan menjaga
Anellise ke Nederland.
Di wonokromo kabar sepeninggalan Annelise membuat
Minke semakin menderita batin, begitu juga dengan Nyai Ontosoroh, tak ingin
larut dalam kesedihan Nyai Ontosoroh menyarankan Minke untuk berlibur, ke
daerah baru melihat suasana dan penduduk bangsanya, mengenal lebih dalam
tentang kehidupan bangsanya. Minke diajarkan pada kultur ke-Eropa-an, adat Eropa
termasuk berpakaiannya , kebebasan befikir dan ia menjunjung tinggi keeropaanya.
Sebagai pribumi ia mampu sejajar dengan teman-teman Eropanya.
Ia berkenalan dengan seorang aktivis muda Tiongkok,
yang memperjuangkan bangsanya dari tirani eropa, mengabarkan semangat
perjuangan membangkitkan mimpi-mimpi leluhurnya untuk sadar bahwa jaman sudah
berupah , Tiongkok sudah tidak sejaya dulu dan takluk dalam genggaman kekuasaan
Eropa.
Ia menjadi pelarian di Hindia, diburu pemerintah
Hindia dan orang-orang China yang tak sepaham denganya dan ahirnya ia mati
dengan tragis setelah menyuarakan kebebasan pendapatnya.
Dikemudian hari Minke kagum akan keberanian aktivis
tersebut,.pemuda Tiongkok itu bernama Khow Ah Shoe
Minke banyak berdiskusi dengan Kommer seorang
jurnalis yang khusus membuat tulisan dalam bahasa melayu, Kommer jugalah yang
menyarankan Minke untuk menulis dalam Melayu, tidak melulu bahasa Belanda,
karena dengan bahasa Melayu suaranya akan didengar oleh kalangan bawah.
Ada penolakan dan perang batin diantara Minke dan
Kommer, ia mengagunkan keeropaanya, hingga tak mengenal rakyat dari bangsanya
sendiri, buta akan nasib rakyat bangsanya yang hidup dalam penindasan.
Dalam suatu perjalanan ia mulai sadar bahwa rakyat bangsanya hidup dalam kesusahan,
ketidak adilan, pembohongan , dan pembodohan.
Ia mulai mengenal nasib rakyat kecil, berdiskusi
dengan keluarga kecil petani tebu didaerah Tulangan Sidoarjo bernama
Trunodongso dan dari pembicaraan tersebut ia merasakan betapa menderitanya
mereka, sewa tanah yang tidak jelas, upah kerja yang selalu dipotong dan ia
berjanji untuk membatu melaui tulisan-tulisan yang akan dibuatnya.
Tulisan yang ia buat tentang ketidakadilan perusahan
gula terhadap petani, upah dan sistem sewa yang merugikan petani ia diskusikan
kepada pimpinan surat kabar S.Nv/d D Tuan Nijman untuk bisa diterbitkan, namun
pimpinan surat kabar enggan menerbitkan, ada perdebatan sengit antra keduanya.
Minke sadar bahwa tuliasanya hanya sebatas ia
mendengar dari satu petani..ia kekurangan bukti tertulisnya.
Ia berdiskusi dengan Kommer dari Kommer ia tahu bahwa tulisannya tidak akan
pernah diterbitkan melalui surat kabar Belanda tersebut, karena surat kabar itu
sejatinya milik perusahan tebu, dari situ Minke kecewa karena kebodohanya,
membuka aib perusahaan gula dengan orang yang salah, ia mengawatirkan petani
kecil Trunodoksa akan keslamatan jiwanya. Minke merasa berdosa terhadap keluarga
Trunodokso.
Diakhir cerita dalam roman ini harta benda, rumah
dan perusahaan Nyai Ontosoroh akan segera berpindah tangan kepada Tuan Maurits
Mellema, namun Minke dan Nyai Ontosoroh tidak tinggal diam dalam perlawanan
mempertahankan kehormatan, benar mereka kalah di peradilan Eropa, dan bagi
mereka peradilan Eropa tak lain hanya
sebuah kebusukan….mereka melawan walau dengan mulut dan kata-kata.
Dibantu sahabat -sahabatnya Minke, Kommer seorang
jurnalis, Jean Marais tentara beralih profesi menjadi pelukis, Darsam sang
pendekar kepercayaan Nyai Ontosoroh, mereka melawan dengan mulut, dengan
kata-kata menghadapi Tuan Maurits Mallema.
Serangan kata itu membuka wawasan setidaknya menyindir ke eropaan, bangsa eropa yang
menjunjung tinggi nilai kemanusian tak
lain hanya perenggut hak-hak orang lain, Nyai Ontosoroh meluapkan emosinya
ketika menginggat kepergian putri tercintanya Annelise.
Begitu juga Minke dengan keras menggugat semua yang
telah terjadi terhadap istrinya Annelis, menggugat akan ketidakadilan yang
dilakukann Tuan Maurits Mallema, selama ini. Satu persatu pun mulai angkat
bicara mereka melawan dengan dendam , dalam kata-kata yang ia mampu.
Dalam jaman ini tak ada cara pribumi menggugat eropa
selain dengan kata-kata dan dengan kata-kata mereka mampu melawan kesombongan
dan keangkuhan seorang Maurits Mallema setidaknya untuk sementara waktu.
Roman ini membawa kita kembali ke masa kolonial ,
menyelusuri celah-celah kehidupan kaum pribumi
bangsa ini, bahwa ketidakadilan akan tetap selalu ada selama penjajahan masih mencengkram
dengan jari-jarinya.
Sulit mencari perbandingan roman atau novel sejenis,
namun dalam karya Pramoedya Ananta Toer mampu menghadirkan sebuah gambaran
jelas dan mendetail akan masa lalu masa dimana bangsa ini masih dalam masa
merangkak untuk tubuh menjadi bangsa yang besar seperti saat ini.
Sebuah karya besar yang layak untuk dinikmati,
sebuah karya sumbangan Indonesia untuk Dunia.
“Jangan
agungkan Eropa sebagai keseluruhan, di mana pun ada yang mulia dan jahat…kau
sudah lupa kiranya Nak, yang kolonial selalu iblis. Tak ada kolonial pernah
mengindahkan kepentingan bangsamu “ (Pramoedya
Ananta Toer)
@genk