Judul Buku : Lelaki Harimau
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : Gramedia
Margio seorang
pemuda kampung , Ia suka sekali berburu babi, ia sebagai penggiring babi yang
cukup diandalkan di kampungnya, dalam jiwanya terdapat harimau putih seputih
angsa tubuhnya besar berbulu halus
berwana putih bersih.
Harimaunya bisa keluar dari jiwanya ketika ia marah, dendam dan benci pada suatu hal, dan itu terjadi sebelum sore hari ketika Margio menggigit leher Anwar Sadat sampai hampir putus, meregang nyawa selanjutnya mati dalam kengerian. Itu puncak kemarahan yang dirasakanya selama ini, harimau putih dalam jiwanya telah melaksanakan tugasnya tanpa ia sadari.
Membaca novel
karya Eka Kurniawan yang berjudul Lelaki Harimau dari awal pembukaan lembaran
cerita sudah sangat menarik dengan cara ia bertutur, detail , berkelok-kelok
dan selanjutnya mengajak untuk menelusuri cerita dari lembaran ke lembaran
berikutnya,
Alur mundur
Alur mundur
Ujung ceritanya
ketika Anwar Sadat terbunuh oleh gigitan harimau putih dalam jiwa Margio,
selanjutnya untuk mengetahui penyebab Margio membunuh dengan begitu sadis kita
akan dibawa mundur ke beberapa slide peristiwa yang dialami tokohnya dan ini
menjadi satu rangkaian adanya peristiwa tersebut.
Margio terlahir
dari keluarga yang berantakan, miskin dan keras, ayahnya Komar bin Syueb adalah
laki-laki yang ringan tangan , tak terhitung ia memeukuli istrinya Nuraeni ketika ia suka, kapan saja ketika suasana
hatinya tidak menentu maka Nuraeni menjadi pelampiasan kekesalanya.
Awalnya Komar
bin Syueb adalah lelaki yang diidamkan Nuraeni ketika lamaran Komar diterima
oleh orang tuanya, namun semuanya berubah ketika mereka sudah sah berumah tangga, kelakuan
sexsual Komar yang menyimpang menjadi derita tersendiri bagi Nuraeni, ia tak
merasakan betapa nikmatnya bercinta namun kengerian dan siksa dan derita yang
malah ia rasakan.
Walaupun begitu
ia tetap bertahan dan melahirkan sosok Margio dan adiknya Mameh dan tubuh
menjadi pemuda desa, walau tetap hari-hari diisi oleh tamparan dan siksaan
seorang Komar bin Syueb, Nuraeni seolah menjadi mati rasa, ia tak merasakan
lagi pedihnya siksaan , ia selalu berbicara dengan perabaotan masak usangnya
setiap waktu hingga orang-orang sudah menganggapnya hilang kewarasanya.
Hingga suatu
hari rona-rona kesedihan itu perlahan
berganti dengan senyum, ketika ia mulai bekerja dirumah Anwar Sadat seorang
pelukis kampung dan perayu wanita handal, Nuraeni membatu pekerjakan rumah
tangganya di dapur memasak atau mencuci pakaian keluarga Anwar Sadat.
Anwar Sadat
adalah seorang playboy kampung, perayu dan pencita ulung, ia begitu tahu dan
memahami keinginan wanita khususnya dalam hubungan percintaan dan ia adalah
juaranya.
Dan rayuan
mautnya pun tak ia sia-siakan ketika Nuraeni bekerja di rumahnya, ia mulai
menggoda perempuan yang sudah lama tak mengenal belaian, menepok ,meraba bagian
tubuh senisitifnya dan pada ahirnya Anwar Sadat lah sang penakluk ulung, Nuraeni
terperangkap dalam permainan cinta terselubungnya, ia tak menolak justru ia
menemukan gairah cinta yang selama ini mati, ia merasakan kenikmatan baru
hingga rona-rona bahagia nampak dari senyum manisnya.
Pada bab ini gambaran
kebahagiaan dan kebejadan sang laknat Anwar Sadat didiskripsikan secara apik
oleh Eka Kurniawan ketika gelora birahi mereka beradu.
Cinta itu benci
Novel Lelaki Harimau
juga mengisahkan cinta Margio dengan Maharani anak ke -3 Anwar Sadat yang
berliku, ketika benih-benih cinta diantara keduanya tumbuh namun tak bisa
menyatu, ada satu penghalang cinta diantara mereka dan kalimat yang keluar dari
mulut Margio disuatu hari yang menjadi penyebabnya “ Ayahmu Anwar Sadat meniduri ibuku Nuraeni, dan lahirlah sigadis
kecil yang mati dihari ketujuh bernama Marian, sebab ayahku mengetahuinya dan
memukuli ibuku hingga Marian lahir bahkan telah sekarat (186).
Beberapa waktu
setelah kematian bayi Marian, Komar bin Syueb pun meregang nyawa atas penyakit
tua dan derita batin atas perilaku kejam terhadap Nuraeni, dosa-dosanya dibawa
hingga ke liang kubur, tanah tak menerima jasadnya, ia harus merelakan terkubur
meringgkuk selaksa anjing.
Tak ada
kesedihan pada Margio pun pada Nuraeni, Margio tak perlu membunuh ayahnya yang
ia benci dari dulu, kini ia telah mati dengan kesia-siaan.
Menyatu dengan
jiwa kebencian
Margio tahu akan
kebejadan Anwar Sadat terhadapp ibunya, disisa-sisa kesedihan ibunya, margio
ingin sedikit melihat Nuraeni kembali tersenyum dalam bahagia, maka didatangilah
Anwar Sadat pada suatu sore ia memintanya untuk mengawini ibunya , ia berkata
pada laki-laki itu “ Aku tahu kau meniduri ibuku dan marian anak kalian”, katanya.
Kalimat itu mengapung diantara mereka
anwar sadat pasi melihat wajahnya. Margio melanjutkan “ kawinlah dengan ibuku,
Ia akan bahagia.”
Tanggapan anwar sadat
menggeleng, dan dengan kata terpatah ia bergumam “ Tidak mungkin, kau liat aku
ada istri dan anak” dan kata selanjutnya memberi penjelasan melimpah “ Lagipula aku tak mencintai ibumu”
(190)
Dan ahirnya
kejadian tragis dan mengerikan itu
terjadi, harimau putihnya seputih angsa hinggap pada jiwanya menggigit leher
Anwar Sadat hingga mati bersimbah darah.
Andai saja ia
mau mengawini ibunya…?
Di sini segala tanya
penyebab Margio membunuh Anwar Sadat sejak dari halaman awal menjadi terungkap
dengan jelas.
Eka Kurniawan
mampu mengolah alur cerita lewat plot mundur dengan apik sehingga rasa
penasaran kejadian diawal cerita terjawab sudah dengan sangat mengesankan.
Lelaki Harimau
mampu menghadirkan suasana cinta penuh birahi, pembunuhan brutal, cinta dan
penghianatan, kesedihan, kekejaman dan penyiksaan, gelora cinta dan pada
ujungnya adalah kematian.
“ Bukan aku yang melakukan”
ia berkata dan melanjutkan “ ada harimau di dalam tubuhku “
@genk