Monday, 3 October 2016

“O”Monyet Yang Ingin Menjadi Manusia



Judul Buku        : O
Penulis               : Eka Kurniawan
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Tuntas sudah membaca novel O- nya mas Eka Kurniawan, setelah beberapa waktu yang lalu juga telah menyelesaikan Manusia Harimau dan Seperti Dendam Rindu Harus Dibalas Tuntas.
Novel setebal 470 halaman ini cukup membutuhkan waktu untuk menyelesaikanya, mengingat cerita terdiri dari berbagai bagian dengan alur yang meloncat-loncat kemudian bertemu dalam satu rangkaian cerita yang cukup keren. Seolah kita dibawa untuk menemukan serpihan-serpihan cerita yang bercecer, dan saya  rasa mas Eka sangat ahli dalam hal ini, dan sepertinya sudah merupakan ciri khas dia mengingat dalam novel yang pernah aku baca Manusia Harimau, Seperti Dendam Rindu Harus Dibalas  Tuntas juga mempunyai gaya alur yang meloncat dan saling berkaitan.

Novel O diawali dengan cerita sepasang monyet yang ingin menjadi manusia, bermimpi menjadi dan bertingkah seperti manusia pada umumnya, berawal dari dongeng-dongeng leluhur mereka yang menceritakan tentang Armo Gundul seekor monyet yang telah sukses menjadi manusia dengan kehebatan dan kebanggaanya menjadi seorang manusia, entah benar atau tidak cerita tersebut, bagi sebagian monyet,  monyet tetaplah seekor monyet dan mustahil menjadi manusia.
Namun cerita tersebut mempengaruhi seekor monyet bernama Entang Kosasih yang bermimpi untuk mengikuti jejak leluhurnya untuk menjadi manusia pun dengan kekasihnya O yang terpaksa mengikuti kegilaan monyet kekasihnya.

“Menjadi manusia bukan perkara mudah dan kebanyakan monyet terlalu tolol untuk mengetahuinya”  (hal 6)

Pada ahirnya O tertdampar pada sirkus topeng monyet milik Betalumur, di sana ia belajar dan bertingkah layaknya manusia dan topeng-topeng monyet itu membuatnya seolah menjadi manusia, ia mulai mencari kekasihnya Entang Kosasih yang telah menjadi kaisar dangdut.

“Dengan cara ini aku yakin bisa menjadi manusia “(hal 48)

Dalam novel O tokoh-tokohnya tidak melulu tentang monyet ada  si anjing kecil bernama Kirik yang menjadi sahabat O, sepasang pemulung Mat Angin dan Ma Kungkung yang tinggal dekat dengan Betalumur di bekas gedung yang tak terpakai, dua orang polisi Sobar dan Joni Simbolon yang salah satunya harus menyerahkan nyawa tertembak oleh seekor monyet, kesuksesan Entang Kosasih kaisar dangdut  yang mengingatkan O pada kekasihnya, Bandit kecil Toni bagong  serta tak lupa sang Ustad yang memberi pemanis dan nasihat-nasihat bijaknya dalam novel ini.

Eka Kurniawan menyajikan bagian-bagian cerita dan menjadikan satu rangkaian cerita yang berkait, tentang cinta dan ketulusanya yang tersaji pada kisah Kyai Sobirin dan Sri astuti, kisah dendam Rudi gudel menuntut balas akan kematian sahabatnya Jarwo edan yang mati digigit anjingnya sendiri, dan kisah mimpi gila seekor monyet untuk menjadi manusia.

Sudah tidak diragukan lagi mengenai kepiawaian seorang  Eka Kurniawan dalam merangkai kata-kata terbukti novel  O ini mampu membuatku untuk membaca-dan membaca lagi. Walaupun cerita begitu luas dengan banyaknya tokoh dan banyaknya bagian-bagian cerita yang membuat ku sedikit berkerut, membacanya dengan perlahan memberi pikiranku untuk mencerna dan memahami keterkaitan satu cerita dengan cerita yang lain.

Di ahir cerita tokoh tragis dialami oleh Betalumur disaat monyetnya O ingin menjadi manusia , ia malah terjebak dalam tubuh seekor babi, dikejar-kejar orang dan mati dengan sangat menyedihkan.
“Itu untuk menginggatkan betapa hidup ini tak lebih dari satu lingkaran, yang lahir akan mati. Yang terbit di timur akan tenggelam di barat, dan muncul lagi di timur. Yang sedih akan bahagia, dan yang bahagia suatu hari akan kembali bertemu sesuatu yang sedih, sebelum kembali bahagia. Dunia ini berputar, semesta ini bulat. Seperti namau ,O (hal418)

Butuh beberapa hari aku menyelesaikan dalam menikmati rangkaian kata, dan secangkir kopi menjadi teman terbaik dalam menelusuri kisah-kisah cerita di dalamnya.

Novel O memberi gambaran akan realita dalam kehidupan kaum pinggiran kota metropolitan, pawang topeng monyet, pemulung, preman, bandit kampung, yang semua berjibaku dalam  memenuhi urusan perutnya. Hidup harus punya mimpi setidaknya berani bermimpi..walaupun terlihat koyol dan tolol setolol monyet yang ingin menjadi manusia.


@genk
 

Tuesday, 6 September 2016

Norwegian Wood




Sudah lama sebenarnya saya ingin membaca karya  Haruki Murakami apa lagi setelah belajar tentang jepang baik bahasa dan sedikit tentang sastranya. Norwegian wood merupakan salah satu novel karya Haruki Murakami seorang penulis kelahiran Kyoto jepang. Ia begitu tertarik dengan literature barat baik musik dan sastra serta budayanya, hal ini yang sering ia sisipkan di setiap karya-karyanya.


Norwegian wood berkisah tentang persahabatan, cinta dengan sedikit nafsu dalam keseharian tokohnya. 

Berlatar di tahun 1960-1970an Toru Watanabe sebagai tokoh utamanya menjalani hidup sebagai seorang mahasiswa di Tokyo, semasa SMA ia sudah bersahabat  dengan Naoko seorang perempuan yang anggun, cantik dan feminim. Naoko mempunyai seorang pacar yang ia cintai bernama Kizuki, ketiganya sering menghabiskan waktu bersama-sama dalam berbagai kesempatan.
Suatu hari Kizuki memilih mengahiri hidupnya, kematianya membuat Naoko dan Watanabe terpukul, selepas SMA Watanabe melanjutkan kuliah di sebuah universitas di Tokyo

Naoko sosok perempuan yang kalem, cintanya terhadap Kizuki sudah dimulai ketika mereka masih kecil,..kematian Kizuki membuatnya goyah dalam pikiranya, ia begitu sedih dan terpukul. Di Tokyo ia bertemu kembali dengan Watanabe, kembali menginggat kebersamaann semasa SMA dulu ketika masih sering jalan bertiga, mereka mengenang masa-masa itu, disetiap minggu mereka berdua menghabiskan waktu berdua dengan berjalan-jalan di sekitar Tokyo. Pada ulang tahun ke -20 kegalauan Naoko tentang banyak hal yang ia rasakan ia tumpahkan terhadap Watanabe, ia merasa kosong menjalani hidup, pada ahirnya ia menikmati malam bersama dalam peluk dan cium seerat pasangan kekasih.

Beberapa waktu setelah kejadiaan itu Naoko mengasingkan diri, dan menjauh dari kehidupan Watanabe, hal ini membuat Watanabe menjadi kawatir akan keadaannya. Kekawatiran, kekalutan dan kekosongan jiwanya ia tumpahkan dengan mencari kesenangan hidup , Nagasawa menjadi sahabat yang saling mengerti selain sesama kutu buku, Nagasawa menjalani hidup dengan penuh suka, bercita-cita menjadi diplomat dan mempunyai pacar cantik bernama Hatsumi, ia mencari kesenangan hidup dengan meniduri banyak perempuan dan Watanabe pun terseret dalam cara pandang hidup Nagasawa.

Norwegian wood membuat saya ikut menelusuri kekosongan jiwa seoarang Naoko di pengasinganya, kesepian yang membuat pikiranya menjadi tak tentu, persahabatannya dengan Reiko-san sedikit memberikan secerah warna hidup. Reiko san sosok perempuan dewasa yang juga menjalani untuk hidup menyepi melupakan kisah-kisah masa lalunya. Mereka saling memahami satu sama lainya, menyayikan Noorwegian wood dari Beatles untuk Naoko dalam kesepiannya.

Bagiku Watanabe sosok pemuda jepang yang ideal, seorang kutu buku, pintar,berwawasan luas dan menarik perhatian setiap perempuan yang dijumpainya, ia jatuh cinta pada Naoko, dan ia membagi cinta juga dengan Midori. Namanya Kobayasi midori anak pemilik toko buku kobayasi, ia berbeda sifat dengan Naoko kalau Naoko seorang yang lembut, dan begitu anggun, Midori adalah sebaliknya terkesan cuek dengan keadaan, tomboy dan terbuka bahkan tak segan ia berbicara jorok menjurus ke arah mesum.

Membaca Norwegian wood hasil terjemahan dari KPG yang sebagian orang mengganggap  bahasa terjemahannya kurang bagus, namun bagiku mampu mengikuti semua cerita yang dituliskanya, banyak unsur adegan sexual secara jelas namun bagiku semua cukup biasa aja.
Haruki Murakumi menyiratkan dibalik gemerlap dan kebebasan pemuda jepang ada hal yang membuat semuannya kosong dalam menjalani kehidupan, depresi, ketakutan akan mimpi masa depan.

“Kau terlalu ketakutan” kataku. “Oleh kegelapan, oleh mimpi sedih, oleh kekuatan orang yang sudah mati, dan sebagainya. Yang harus kau lalkukan adalah melupakan semua itu dan jika melupakanya kau akan sembuh “( 217-218).

Haruki murakami menggambarkan kehidupan pemuda jepang pada tahuan 60-70an, kebebasan berfikir, kebebasan berbuat dan kebebasan prilaku diantara pemuda jepang, perasaan cinta yang tubuh, kesepian hidup tergambar jelas disetiap cerita di dalamnya. Kekosongan hidup, yang menghantui dan pada ujungnya bunuh diri menjadi jalan menuju kedamaian.

Kematian bukanlah lawan kehidupan, tetapi ada sebagai bagianya (397)

Kematian Kizuki dengan cara bunuh diri tanpa tahu apa sebabnya, kematian kakaknya Naoko dengan bunuh diri juga, dan ahirnya Naoko pun mengahairi hidupnya dengan cara bunuh diri menjawab semua permasalahan yang mendera, dan kematian adalah pilihan entah benar atau salah.
Kematian Naoko membawa dampak tersendiri bagi Watanabe, kesedihan yang mendalam membuatnya mengasingkann diri, melakukan perjalanan untuk mengurangi gudah yang ia alami, ia ahirnya kembali pada dunia nyata dan melanjutkan hidupnya, perjumpaannya dengan Reiko san memberi warna tersendiri, lalu bercinta dengannya .

Ending dari novel ini sedikit mengambang tidak jelas nasib Watanabe, Midori dan Reiko san dan bagaimana kelanjutanya , Haruki murakami seolah mengajak pembacanya untuk menebak-nebak sesuai dengan imajinasinya , memberi kebebasan kepada pembacanya untuk menafsirkan sendiri ending yang ingin diharapkanya,

Sebenarnya dimanakah aku ini? Yang tampak dimataku hanya sosok tubuh orang-orang yang tak terhitung banyaknya sedang berjalan entah menuju kemana. Aku terus memanggil-manggil midori dari tengah-tengah tempat entah dimana. “ Toru watanabe.

Norwegian wood sedikit banyak memberi kesan tersendiri terhadap haruki murakami tentang karya sastranya, dan kedepan pemburuanku masih akan berlanjut untuk mencari karya-karyanya yang lain
@genk

Thursday, 18 August 2016

Seperti Dendam Rindu Harus Dibalas Tuntas : Jalan Sunyi Sang Kelamin



Apa yang kita rasakan ketika burung kecilmu tidak bisa bagun disetiap pagi, atau tertidur ketika melihat kemolekan tubuh lawan jenismu?
Sedih, cemas, kecewa, putus asa,mungkin yang akan kita rasakan,  menginggat burung kecilmu adalah masa depanmu, hal itu lah yang dialami Arjo Kawir tokoh utama dalam novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibalas Tuntas karya Eka Kurniawan.

Novel ini bercerita tentang jalan sunyi sebuah kelamin yang tidak bisa ereksi, tentang petualangan, cinta dan tentang mkna akan sebuah hidup. Mas Eka mampu mengolah dengan apik cerita novel yang tak terlalu tebal ini.

Betapa Arjo Kawir  begitu frustasi melihat burung kecil kesayanganya selalu tertidur dalam kedamaian, lama tanpa terusik untuk bangun, tiidur dalam lelap yang tak berkesudahan.
Tragedi itu diawali ketika keisengan dan hasrat nakal sebagai remaja Arjo Kawir dan Si Tokek yang masih begitu menggebu saat melihat pergumulan antara lelaki dan perempuan dalam satu permainan hebat. Saat mereka bosan dan menemukan kejadian yang lebih  hebat dari sekedar mengintip pergumulan istri pak RT, Yaitu ketika mereka mengintip Rona Merah perempuan setengah gila  mantan istri perampok bernama Agus Klobot yang diperkosa oleh dua oknum polisi di gubuk terpencilnya.

Ketika Arjo Kawir  tertangkap saat mereka kepergok oleh dua  oknum polisi tersebut , melalui todongan pistol di kening Arjo Kawir dipaksa untuk ikut memperkosa Rona Merah, bukan nikmat yang ia rasakan namun cemooh dan ejekan  kedua polisi tersebut melihat burung kecilnya mengkeret dan tak bisa ngaceng. Itu awal burung kecilnya tertidur lelap hingga beranjak dewasa.

Eka Kurniawan mengawali dengan sebuah tragedi  yang dialami Arjo Kawir yang membawa dampak dan karakternya nanti ketika beranjak dewasa, cerita berlanjut ketika Arjo Kawir mencoba membangunkan burung kecilnya, mulai dari mengoleskan ulekan cabe rawit, sengatan lebah, namun semua sia-sia hanya kesakitan yang ia rasakan, hal ini membuat  Iwan Angsa bapaknya Si Tokek ikut kasihan ahirnya ia mencoba membawa Arjo Kawir ke lokalisasi pinggiran untuk membangkitkan sahwatnya namun semua sia-sia., burungnya masih terlelap dalam kesunyianya , hal ini membuat Si Tokek turut merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Arjo Kawir.

Menyadari burungnya tidak dapat berdiri ia memulai  mengiklaskan diri dan memilih jalan sunyi berpetualang  dengan berkelahi menghilangkan frustasi yang berkecamuk dalam hidupnya. Ia mencari si macan jagoan kampong sebelah dan ingin membunuhnya atas perintah Paman Gembul.
“Hanya orang yang enggak bisa ngaceng bisa berkelahi tanpa takut mati “ kata Iwan Angsa

Pertemuan dengan Ietung anak buah Pak Lebe  pengusaha tambak yang ingin dibunuhnya pada satu perkelahian membuatnya ia jatuh cinta, apalah artinya cinta ketika burungnya tetap tertidur, walau begitu ietung juga menncintainya dan ahirnya mereka menikah. Nikah tanpa hubungan layaknya suami istri adalah petaka tersendiri bagi keduanya, suatu hari Ietung hamil membuat Arjo kawir kecewa dan menyakini ada laki-laki lain yang menghamili Ietung.

Kekecewaannya membawa ia berpetualang menjadi sopir truk antar lintas sumatra, di sana ia bertemu dengan Mono Ompong yang menjadi kernet truknya. Pertentangan Mono Ompong dan si Kumbang  rekan sesama sopir truk membawa pada sebuah perkelahian duel antar hidup dan mati bertaruh akan sebuah harga diri, walaupun sebenarnnya Mono Ompong tak memiliki keberanian , namun ia mampu mengalahkan Si Kumbang.

Lama Arjo Kawir meninggalkan Ietung dengan anak perempuannya yang kini ia sangat sayangi, hanya foto gadis kecil pemeberian Si Tokek yang menginggatkan Arjo Kawir akan anak perempuanya, foto-foto itu  ia tempel di langit-langit ruang kemudinya mengobati kerinduan  yang ia rasakan,

Arjo Kawir juga bertemu dengan tokoh Jelita, perempuan yang digambarkan secara tidak menarik, namun selalu hadir dalam mimpinya dan anehnya dalam mimpi-mimpi  Jelita membuat burungnya  bisa ngaceng, tidak begitu jelas siapa Jelita sebenarnya, yang pasti ia bisa membangkitkan burung dan sempat bercinta dengannya di suatu subuh.

Eka Kurniawan bermain kata dengan sangat bebasnya yang mungkin bagi sebagian orang terlihat tabu/ saru, namun bagi saya itu lah kebebasan berfikir sang penulisnya, kebebasan untuk menggunakan kata yang menurut penulisnya pas dan cocok dengan keadaan yang ingin digambarkan dan diceritakan, maka tulisan perek, lonte,memek pelacur, ngaceng mengalir dengan bebasnya.

Ada yang khas disetiap membaca karya Mas Eka cerita yang detail, sedikit saru namun seru alur yang meloncat-loncat menambah cerita ini semakin berisi. Bagiku kehebatan Eka Kurniawan merangkai kata sehingga pembaca merasa tahu-tahu lembaran terahir novelnya sudah selesai. Sudah tak diragukan lagi kualitas karya sastra seorang Eka Kurniawan.
Novel setebal 242 halaman ini mampu mengisi  liburanku disela-sela menikmati pagi dengan secangkir kopi hangat.

Diahir cerita burung kecil Arjo Kawir bisa ereksi kembali setelah perjalanan panjang dan dalam tidur lelapnya setelah ia bertemu jelita, ia kembali menemui gadis kecilnya , disaat burung kecilnya bisa ngaceng kembali ietung di penjara karena membunuh kedua polisi yang memperkosa Rona merah .dan ia kembali tersiksa dalam penantian menunggu kepulangan Ietung entah akan berapa lama lagi.

“Tolol, aku tak bisa memberimu apa-apa. Isrimu pergi dan tak tahu akan ditahan berapa lama kali ini. Ia membunuh dua polisi.”
“Aku akan bersabar menunggunya, seperti kau bersabar menungguku bangun, Tuan, bolehkah sementara menunggu, aku tidur lagi?”