Sunday, 31 July 2016

Lelaki Harimau


Judul Buku      : Lelaki Harimau
Penulis             : Eka Kurniawan
Penerbit           : Gramedia

Margio seorang pemuda kampung , Ia suka sekali berburu babi, ia sebagai penggiring babi yang cukup diandalkan di kampungnya, dalam jiwanya terdapat harimau putih seputih angsa  tubuhnya besar berbulu halus berwana putih bersih. 

Harimaunya bisa keluar dari jiwanya ketika ia marah, dendam dan benci pada suatu hal, dan itu terjadi sebelum sore hari ketika Margio  menggigit leher Anwar Sadat sampai hampir putus, meregang nyawa selanjutnya mati dalam kengerian. Itu puncak kemarahan yang dirasakanya selama ini, harimau putih dalam jiwanya telah melaksanakan tugasnya tanpa ia sadari.
Membaca novel karya Eka Kurniawan yang berjudul Lelaki Harimau dari awal pembukaan lembaran cerita sudah sangat menarik dengan cara ia bertutur, detail , berkelok-kelok dan selanjutnya mengajak untuk menelusuri cerita dari lembaran ke lembaran berikutnya,


Alur mundur
Ujung ceritanya ketika Anwar Sadat terbunuh oleh gigitan harimau putih dalam jiwa Margio, selanjutnya untuk mengetahui penyebab Margio membunuh dengan begitu sadis kita akan dibawa mundur ke beberapa slide peristiwa yang dialami tokohnya dan ini menjadi satu rangkaian adanya peristiwa tersebut.

Margio terlahir dari keluarga yang berantakan, miskin dan keras, ayahnya Komar bin Syueb adalah laki-laki yang ringan tangan , tak terhitung ia memeukuli istrinya Nuraeni  ketika ia suka, kapan saja ketika suasana hatinya tidak menentu maka Nuraeni menjadi pelampiasan kekesalanya.
Awalnya Komar bin Syueb adalah lelaki yang diidamkan Nuraeni ketika lamaran Komar diterima oleh orang tuanya, namun semuanya berubah ketika  mereka sudah sah berumah tangga, kelakuan sexsual Komar yang menyimpang menjadi derita tersendiri bagi Nuraeni, ia tak merasakan betapa nikmatnya bercinta namun kengerian dan siksa dan derita yang malah ia rasakan.

Walaupun begitu ia tetap bertahan dan melahirkan sosok Margio dan adiknya Mameh dan tubuh menjadi pemuda desa, walau tetap hari-hari diisi oleh tamparan dan siksaan seorang Komar bin Syueb, Nuraeni seolah menjadi mati rasa, ia tak merasakan lagi pedihnya siksaan , ia selalu berbicara dengan perabaotan masak usangnya setiap waktu hingga orang-orang sudah menganggapnya hilang kewarasanya.

Hingga suatu hari rona-rona kesedihan itu  perlahan berganti dengan senyum, ketika ia mulai bekerja dirumah Anwar Sadat seorang pelukis kampung dan perayu wanita handal, Nuraeni membatu pekerjakan rumah tangganya di dapur memasak atau mencuci pakaian keluarga Anwar Sadat.
Anwar Sadat adalah seorang playboy kampung, perayu dan pencita ulung, ia begitu tahu dan memahami keinginan wanita khususnya dalam hubungan percintaan dan ia adalah juaranya.

Dan rayuan mautnya pun tak ia sia-siakan ketika Nuraeni bekerja di rumahnya, ia mulai menggoda perempuan yang sudah lama tak mengenal belaian, menepok ,meraba bagian tubuh senisitifnya dan pada ahirnya Anwar Sadat lah sang penakluk ulung, Nuraeni terperangkap dalam permainan cinta terselubungnya, ia tak menolak justru ia menemukan gairah cinta yang selama ini mati, ia merasakan kenikmatan baru hingga rona-rona bahagia nampak dari senyum manisnya.

Pada bab ini gambaran kebahagiaan dan kebejadan sang laknat Anwar Sadat didiskripsikan secara apik oleh Eka Kurniawan ketika gelora birahi mereka beradu.
Cinta itu benci
Novel Lelaki Harimau juga mengisahkan cinta Margio dengan Maharani anak ke -3 Anwar Sadat yang berliku, ketika benih-benih cinta diantara keduanya tumbuh namun tak bisa menyatu, ada satu penghalang cinta diantara mereka dan kalimat yang keluar dari mulut Margio disuatu hari yang menjadi penyebabnya “ Ayahmu Anwar Sadat  meniduri ibuku Nuraeni, dan lahirlah sigadis kecil yang mati dihari ketujuh bernama Marian, sebab ayahku mengetahuinya dan memukuli ibuku hingga Marian lahir bahkan telah sekarat (186).

Beberapa waktu setelah kematian bayi Marian, Komar bin Syueb pun meregang nyawa atas penyakit tua dan derita batin atas perilaku kejam terhadap Nuraeni, dosa-dosanya dibawa hingga ke liang kubur, tanah tak menerima jasadnya, ia harus merelakan terkubur meringgkuk selaksa anjing.
Tak ada kesedihan pada Margio pun pada Nuraeni, Margio tak perlu membunuh ayahnya yang ia benci dari dulu, kini ia telah mati dengan kesia-siaan.
Menyatu dengan jiwa kebencian
Margio tahu akan kebejadan Anwar Sadat terhadapp ibunya, disisa-sisa kesedihan ibunya, margio ingin sedikit melihat Nuraeni kembali tersenyum dalam bahagia, maka didatangilah Anwar Sadat pada suatu sore ia memintanya untuk mengawini ibunya , ia berkata pada laki-laki itu “ Aku tahu kau meniduri ibuku dan marian anak kalian”, katanya. Kalimat itu mengapung  diantara mereka anwar sadat pasi melihat wajahnya. Margio melanjutkan “ kawinlah dengan ibuku, Ia akan bahagia.”
Tanggapan anwar sadat menggeleng, dan dengan kata terpatah ia bergumam “ Tidak mungkin, kau liat aku ada istri dan anak” dan kata selanjutnya memberi penjelasan  melimpah “ Lagipula aku tak mencintai ibumu” (190)

Dan ahirnya kejadian tragis dan  mengerikan itu terjadi, harimau putihnya seputih angsa hinggap pada jiwanya menggigit leher Anwar Sadat hingga mati bersimbah darah.
Andai saja ia mau mengawini ibunya…?
Di sini segala tanya penyebab Margio membunuh Anwar Sadat sejak dari halaman awal menjadi terungkap dengan jelas.

Eka Kurniawan mampu mengolah alur cerita lewat plot mundur dengan apik sehingga rasa penasaran kejadian diawal cerita terjawab sudah dengan sangat mengesankan.
Lelaki Harimau mampu menghadirkan suasana cinta penuh birahi, pembunuhan brutal, cinta dan penghianatan, kesedihan, kekejaman dan penyiksaan, gelora cinta dan pada ujungnya adalah kematian.
“ Bukan aku yang melakukan” ia berkata dan melanjutkan “ ada harimau di dalam tubuhku “
@genk

No comments:

Post a Comment