Judul Buku : O
Penulis :
Eka Kurniawan
Penerbit :
Gramedia Pustaka Utama
Tuntas sudah
membaca novel O- nya mas Eka Kurniawan, setelah beberapa waktu yang lalu juga telah
menyelesaikan Manusia Harimau dan Seperti Dendam Rindu Harus Dibalas Tuntas.
Novel setebal
470 halaman ini cukup membutuhkan waktu untuk menyelesaikanya, mengingat cerita
terdiri dari berbagai bagian dengan alur yang meloncat-loncat kemudian bertemu
dalam satu rangkaian cerita yang cukup keren. Seolah kita dibawa untuk
menemukan serpihan-serpihan cerita yang bercecer, dan saya rasa mas Eka sangat ahli dalam hal ini, dan
sepertinya sudah merupakan ciri khas dia mengingat dalam novel yang pernah aku
baca Manusia Harimau, Seperti Dendam Rindu Harus Dibalas Tuntas juga mempunyai gaya alur yang
meloncat dan saling berkaitan.
Novel O diawali
dengan cerita sepasang monyet yang ingin menjadi manusia, bermimpi menjadi dan
bertingkah seperti manusia pada umumnya, berawal dari dongeng-dongeng leluhur
mereka yang menceritakan tentang Armo Gundul seekor monyet yang telah sukses
menjadi manusia dengan kehebatan dan kebanggaanya menjadi seorang manusia,
entah benar atau tidak cerita tersebut, bagi sebagian monyet, monyet tetaplah seekor monyet dan mustahil
menjadi manusia.
Namun cerita
tersebut mempengaruhi seekor monyet bernama Entang Kosasih yang bermimpi untuk
mengikuti jejak leluhurnya untuk menjadi manusia pun dengan kekasihnya O yang
terpaksa mengikuti kegilaan monyet kekasihnya.
“Menjadi manusia bukan
perkara mudah dan kebanyakan monyet terlalu tolol untuk mengetahuinya” (hal 6)
Pada ahirnya O
tertdampar pada sirkus topeng monyet milik Betalumur, di sana ia belajar dan
bertingkah layaknya manusia dan topeng-topeng monyet itu membuatnya seolah
menjadi manusia, ia mulai mencari kekasihnya Entang Kosasih yang telah menjadi
kaisar dangdut.
“Dengan cara ini aku yakin
bisa menjadi manusia “(hal 48)
Dalam novel O tokoh-tokohnya
tidak melulu tentang monyet ada si anjing
kecil bernama Kirik yang menjadi sahabat O, sepasang pemulung Mat Angin dan Ma
Kungkung yang tinggal dekat dengan Betalumur di bekas gedung yang tak terpakai,
dua orang polisi Sobar dan Joni Simbolon yang salah satunya harus menyerahkan
nyawa tertembak oleh seekor monyet, kesuksesan Entang Kosasih kaisar
dangdut yang mengingatkan O pada
kekasihnya, Bandit kecil Toni bagong
serta tak lupa sang Ustad yang memberi pemanis dan nasihat-nasihat
bijaknya dalam novel ini.
Eka Kurniawan
menyajikan bagian-bagian cerita dan menjadikan satu rangkaian cerita yang
berkait, tentang cinta dan ketulusanya yang tersaji pada kisah Kyai Sobirin dan
Sri astuti, kisah dendam Rudi gudel menuntut balas akan kematian sahabatnya Jarwo
edan yang mati digigit anjingnya sendiri, dan kisah mimpi gila seekor monyet
untuk menjadi manusia.
Sudah tidak
diragukan lagi mengenai kepiawaian seorang Eka Kurniawan dalam merangkai kata-kata
terbukti novel O ini mampu membuatku
untuk membaca-dan membaca lagi. Walaupun cerita begitu luas dengan banyaknya
tokoh dan banyaknya bagian-bagian cerita yang membuat ku sedikit berkerut,
membacanya dengan perlahan memberi pikiranku untuk mencerna dan memahami
keterkaitan satu cerita dengan cerita yang lain.
Di ahir cerita
tokoh tragis dialami oleh Betalumur disaat monyetnya O ingin menjadi manusia ,
ia malah terjebak dalam tubuh seekor babi, dikejar-kejar orang dan mati dengan
sangat menyedihkan.
“Itu untuk menginggatkan
betapa hidup ini tak lebih dari satu lingkaran, yang lahir akan mati. Yang
terbit di timur akan tenggelam di barat, dan muncul lagi di timur. Yang sedih
akan bahagia, dan yang bahagia suatu hari akan kembali bertemu sesuatu yang
sedih, sebelum kembali bahagia. Dunia ini berputar, semesta ini bulat. Seperti
namau ,O (hal418)
Butuh beberapa
hari aku menyelesaikan dalam menikmati rangkaian kata, dan secangkir kopi
menjadi teman terbaik dalam menelusuri kisah-kisah cerita di dalamnya.
Novel O memberi
gambaran akan realita dalam kehidupan kaum pinggiran kota metropolitan, pawang topeng
monyet, pemulung, preman, bandit kampung, yang semua berjibaku dalam memenuhi urusan perutnya. Hidup harus punya
mimpi setidaknya berani bermimpi..walaupun terlihat koyol dan tolol setolol
monyet yang ingin menjadi manusia.
@genk
No comments:
Post a Comment