“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” ― Pramoedya Ananta Toer
Saturday, 5 September 2015
Bumi Manusia
Judul Buku : Bumi Manusia
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Bumi manusia merupakan roman pertama dari tetralogi romanya satrawan Pramodya Ananta Toer. Bercerita tentang kehidupan seorang remaja pribumi bernama Minke yang berkesempatan mempelajari budaya Belanda melalui guru- guru belandanya di sekolah H.B.S Surabaya.
Ia pribumi yang beruntung bisa bergaul dan berteman dengan kawan-kawan Belanda ataupun keturunan,ditengah -tengah para pribumi yang dihinakan oleh kaum penjajah Belanda.
Seorang pribumi yang dipandang rendah mampu menyejajarkan diri degan penjajah baik dalam pengetahuan, bahasa dan adat ke eropaan.
Tidak mudah memang hanya anak bupati, saudagar yang bisa berkesempatan menjajarkan diri melaui pengetahuan dan pembelajaran dari sekolah belanda dan minke adalah salah satunya.
Roman ini berlatar pada masa kolonial pada awal abad ke-20 dimana negara ini masih tertindas dalam kelamnya penjajahan belanda. Terhina dan terbudak oleh kaum penjajah.
Membaca roman ini kita dibawa kembali menembus waktu yang telah lalu, tentang sisi kehidupan kaum pribumi dan eropa. Dan mendengar tentang kegelisahan seorang Minke menghadapi adat pribumi dan berusaha untuk menuju adat eropa sebagai simbul kebebasan dan ketinggian ilmu pengetahuan dan peradaban.
Ringkasan cerita:
Minke pemuda pribumi yang bersekolah di H.B.S, berkesemptan belajr tentang pengetahuan dan adat belanda yang memberikan kebebasan berfikir dan menggali ilmu yang seluas luasnya, sangat berbeda degan adat kaumnya yang sangat terkengkang oleh aturan adat kaum priyayi.
Ia banyak mempunyai kawan dari ank-anak indo , dan asli belanda, suatu hari ia dan kawannya Robert Suurhof berkunjung ke kediaman temenya Robert Mellema,di sana Minke bertemu dengan Nyai Ontosoroh dan anaknya Annelies .
Annelies merupakan anak perempuan indo dari ayah yang bernama Herman Mellema seorang Belanda dan ibu seorang pribumi nyai Ontosoroh(sanikem) yang berwawasan luas.
Namun dibalik luasnya wawasan tersimpan kisah yang memilukan dan kebencian terhadap adat keluarganya. Ia korban penjualan anak yang dilakukan oleh ayahnya demi sebuah jabatan penting yang diinginkan ayahnya.
Kebencian itulah yang membuat ia membuka mata dan berusaha bawa pribumi bisa sejajar degan belanda. Ia menjadi Nyai / gundik seorang belanda Herman Mallema dan ia belajar bahasa, pengetahuan, tata niaga, peternakan, perkebunan dari suaminya, hingga ia bisa mandiri mengurus perusahaanya.
Annalies tertarik dengn pribadi Minke yang pribumi namun berwawasan luas, ahirnya ann jatuh cinta thadap Minke. Minke sendiripun menaruh hati terhadap annelies.
Kedekatan annalies dan ibunya terhadap Minke mebuat rasa cemburu Robert Mellema yang tak lain adalah kakak kandung dari annelies sendiri.
Waktu berlalu banyak kisah yang terjadi terhadap Minke, di sekolahnya ia berteman baik dengan guru satra belanda nya Juffrouw Magda Peters, bertukar pikiran tentang sisi -sisi kemanusiaan dimasa penjajahan, kelak ia yang banyak membantu dan membela Minke, saat ia dihinakan di sekolahnya.
Berbagai persoalan yang dialami Minke semakin menguatkan ia menjadi pribumi yang tangguh, kesemuanya menyangkut perbedaan pribumi dan eropa, bahwa seorang pribumi hanya dipandang sebelah mata, namun Minke mampu membuktikan bahwa pribumi pun bisa sejajar dengan keturunan eropa.
Ia lulus sekolah H.B.S dengan nilai yang baik, setelah lulus ia menikah dengan Annalies, perkawinanya cukup membahagiakan. Ia tinggal dirumah nyai Ontosoroh, hidup bahagia bersamanya.
Hingga suatu masalah besar datang , semua menyangkut akan rumah,perkebunan, pabrik dan semuanya yang dimiliki oleh nyai Ontosoroh akan disita dan dibagi melalui keputusan pengadilan hukum di Amsterdam tentang pembagiaan hak waris dari mendiang suaminya Herman Mellema yang telah meninggal di Surabaya, diajukkan oleh anak sah tuan Herman Mellema dari istri belandanya Amelia Mellema Hammers yaitu Ir.Maurits Mellema yang berada di Nederland.
Keputusan tersebut mewajibkan semua harta waris mendiang tuan Herman Mellema yang dikuasai oleh nyai.Ontosoroh karena perkawinan tidak sah diserahkan kepada anak sahnya yaitu Ir. Maurits Mellema. Minke, nyai ontosoroh tak tinggal diam, ia mencoba melawan keputusan yang tidak adil tersebut, Minke memprotes melaui tulisan-tulisan yang diterbikan melalui Koran-koran, nyai ontosoroh menyewa beberapa advokat untuk membela dan mempelajari keputusan yang dirasa tidak adil.
Banyak orang eropa yang tidak setuju dengan keputusan tersebut, namun mereka tidak bisa berbuat banyak untuk membantunya,
Diahir buku ini diceritakan bahwa ahirnya hukum-hukum eropalah yang menang setidak nya untuk saat ini, pribumi hanyalah pribumi.
“Kita kalah ma…
“Kita telah melawan nak, nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”
Memang begitu kehidupan kolonial di mana saja, asia, afrika, amerika, Australia, semua yang tidak eropa lebih-lebih tidak kolonial, diinjak, ditertawakan, dihina , hanya untuk berpamer tentang keunggulan eropa dan keprkasaan kolonial, dalam segala hal juga kejahilanya.kau sendiri jangan lupa minke mereka yang merintis ke hindia ini mereka hanya petualang dan orang tidak laku di eropa sana, disini mereka berlagak lebih eropa. Sampah itu….(hal 416 ).
@genk
Labels:
Resensi Buku
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment