Tuesday, 29 September 2015

Anak Semua Bangsa





Anak Semua Bangsa

Judul Buku                  : Anak Semua Bangsa
Pengarang                   : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit                       : Lentera Dipantara






Roman ini merupakan kelanjutan dari  roman yang pertama yaitu Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Anak Semua Bangsa masih bercerita tentang Minke, Nyai Ontosoroh dan kehidupann di daerah wonokromo.
 
Dalam cerita sebelumnya kekalahan Nyai Ontosoroh dan Minke terhadap peradilan eropa mengakibatkan istri tercinta Minke yaitu Annelise harus berlayar ke Nederland untuk menetap di sana meninggalkan orang-orang yang dicintai di Hindia.

Hal ini membuat kesedihan Minke dan Nyai Ontosoroh semakin mendalam ditambah lagi harta yang ia punyai dari hasil perdagangan dan usahanya siap –siap disita oleh Tuan Maurits Mellema, hari-hari berlalu diisi dengan kesedihan akan kehilangan istri tercintanya, tak lama setelah menetap di Nederland Anenelis meninggal dunia karena kesedihan terpisah antara jarak dan waktu, kabar meninggalnya Annelis di ketahui dari kiriman –kiriman surat Panji Darman yang sengaja diutus oleh Nyai Ontosoroh untuk mengikuti dan menjaga Anellise ke Nederland.

Di wonokromo kabar sepeninggalan Annelise membuat Minke semakin menderita batin, begitu juga dengan Nyai Ontosoroh, tak ingin larut dalam kesedihan Nyai Ontosoroh menyarankan Minke untuk berlibur, ke daerah baru melihat suasana dan penduduk bangsanya, mengenal lebih dalam tentang kehidupan bangsanya. Minke diajarkan pada kultur ke-Eropa-an, adat Eropa termasuk berpakaiannya , kebebasan befikir dan ia menjunjung tinggi keeropaanya. Sebagai pribumi ia mampu sejajar dengan teman-teman Eropanya.
 
Ia berkenalan dengan seorang aktivis muda Tiongkok, yang memperjuangkan bangsanya dari tirani eropa, mengabarkan semangat perjuangan membangkitkan mimpi-mimpi leluhurnya untuk sadar bahwa jaman sudah berupah , Tiongkok sudah tidak sejaya dulu dan takluk dalam genggaman kekuasaan Eropa.

Ia menjadi pelarian di Hindia, diburu pemerintah Hindia dan orang-orang China yang tak sepaham denganya dan ahirnya ia mati dengan tragis setelah menyuarakan kebebasan pendapatnya.
Dikemudian hari Minke kagum akan keberanian aktivis tersebut,.pemuda Tiongkok itu bernama Khow Ah Shoe

Minke banyak berdiskusi dengan Kommer seorang jurnalis yang khusus membuat tulisan dalam bahasa melayu, Kommer jugalah yang menyarankan Minke untuk menulis dalam Melayu, tidak melulu bahasa Belanda, karena dengan bahasa Melayu suaranya akan didengar oleh kalangan bawah.
Ada penolakan dan perang batin diantara Minke dan Kommer, ia mengagunkan keeropaanya, hingga tak mengenal rakyat dari bangsanya sendiri, buta akan nasib rakyat bangsanya yang hidup dalam penindasan.

Dalam suatu perjalanan ia mulai sadar  bahwa rakyat bangsanya hidup dalam kesusahan, ketidak adilan, pembohongan , dan pembodohan.
Ia mulai mengenal nasib rakyat kecil, berdiskusi dengan keluarga kecil petani tebu didaerah Tulangan Sidoarjo bernama Trunodongso dan dari pembicaraan tersebut ia merasakan betapa menderitanya mereka, sewa tanah yang tidak jelas, upah kerja yang selalu dipotong dan ia berjanji untuk membatu melaui tulisan-tulisan yang akan dibuatnya.



Tulisan yang ia buat tentang ketidakadilan perusahan gula terhadap petani, upah dan sistem sewa yang merugikan petani ia diskusikan kepada pimpinan surat kabar S.Nv/d D Tuan Nijman untuk bisa diterbitkan, namun pimpinan surat kabar enggan menerbitkan, ada perdebatan sengit antra keduanya.
Minke sadar bahwa tuliasanya hanya sebatas ia mendengar dari satu petani..ia kekurangan bukti tertulisnya.

Ia berdiskusi dengan Kommer dari  Kommer ia tahu bahwa tulisannya tidak akan pernah diterbitkan melalui surat kabar Belanda tersebut, karena surat kabar itu sejatinya milik perusahan tebu, dari situ Minke kecewa karena kebodohanya, membuka aib perusahaan gula dengan orang yang salah, ia mengawatirkan petani kecil Trunodoksa akan keslamatan jiwanya. Minke merasa berdosa terhadap keluarga Trunodokso.

Diakhir cerita dalam roman ini harta benda, rumah dan perusahaan Nyai Ontosoroh akan segera berpindah tangan kepada Tuan Maurits Mellema, namun Minke dan Nyai Ontosoroh tidak tinggal diam dalam perlawanan mempertahankan kehormatan, benar mereka kalah di peradilan Eropa, dan bagi mereka peradilan Eropa tak lain hanya  sebuah kebusukan….mereka melawan walau dengan mulut dan kata-kata.

Dibantu sahabat -sahabatnya Minke, Kommer seorang jurnalis, Jean Marais tentara beralih profesi menjadi pelukis, Darsam sang pendekar kepercayaan Nyai Ontosoroh, mereka melawan dengan mulut, dengan kata-kata menghadapi Tuan Maurits Mallema.

Serangan kata itu membuka wawasan setidaknya  menyindir ke eropaan, bangsa eropa yang menjunjung tinggi nilai kemanusian  tak lain hanya perenggut hak-hak orang lain, Nyai Ontosoroh meluapkan emosinya ketika menginggat kepergian putri tercintanya Annelise.

Begitu juga Minke dengan keras menggugat semua yang telah terjadi terhadap istrinya Annelis, menggugat akan ketidakadilan yang dilakukann Tuan Maurits Mallema, selama ini. Satu persatu pun mulai angkat bicara mereka melawan dengan dendam , dalam kata-kata yang ia mampu.

Dalam jaman ini tak ada cara pribumi menggugat eropa selain dengan kata-kata dan dengan kata-kata mereka mampu melawan kesombongan dan keangkuhan seorang Maurits Mallema setidaknya untuk sementara waktu.



Roman ini membawa kita kembali ke masa kolonial , menyelusuri celah-celah kehidupan  kaum pribumi bangsa ini, bahwa ketidakadilan akan tetap selalu ada selama penjajahan masih mencengkram dengan jari-jarinya.

Sulit mencari perbandingan roman atau novel sejenis, namun dalam karya Pramoedya Ananta Toer mampu menghadirkan sebuah gambaran jelas dan mendetail akan masa lalu masa dimana bangsa ini masih dalam masa merangkak untuk tubuh menjadi bangsa yang besar seperti saat ini.
Sebuah karya besar yang layak untuk dinikmati, sebuah karya sumbangan Indonesia untuk Dunia.

“Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan, di mana pun ada yang mulia dan jahat…kau sudah lupa kiranya Nak, yang kolonial selalu iblis. Tak ada kolonial pernah mengindahkan kepentingan bangsamu “  (Pramoedya Ananta Toer)

 @genk

No comments:

Post a Comment