Thursday, 18 August 2016

Seperti Dendam Rindu Harus Dibalas Tuntas : Jalan Sunyi Sang Kelamin



Apa yang kita rasakan ketika burung kecilmu tidak bisa bagun disetiap pagi, atau tertidur ketika melihat kemolekan tubuh lawan jenismu?
Sedih, cemas, kecewa, putus asa,mungkin yang akan kita rasakan,  menginggat burung kecilmu adalah masa depanmu, hal itu lah yang dialami Arjo Kawir tokoh utama dalam novel Seperti Dendam Rindu Harus Dibalas Tuntas karya Eka Kurniawan.

Novel ini bercerita tentang jalan sunyi sebuah kelamin yang tidak bisa ereksi, tentang petualangan, cinta dan tentang mkna akan sebuah hidup. Mas Eka mampu mengolah dengan apik cerita novel yang tak terlalu tebal ini.

Betapa Arjo Kawir  begitu frustasi melihat burung kecil kesayanganya selalu tertidur dalam kedamaian, lama tanpa terusik untuk bangun, tiidur dalam lelap yang tak berkesudahan.
Tragedi itu diawali ketika keisengan dan hasrat nakal sebagai remaja Arjo Kawir dan Si Tokek yang masih begitu menggebu saat melihat pergumulan antara lelaki dan perempuan dalam satu permainan hebat. Saat mereka bosan dan menemukan kejadian yang lebih  hebat dari sekedar mengintip pergumulan istri pak RT, Yaitu ketika mereka mengintip Rona Merah perempuan setengah gila  mantan istri perampok bernama Agus Klobot yang diperkosa oleh dua oknum polisi di gubuk terpencilnya.

Ketika Arjo Kawir  tertangkap saat mereka kepergok oleh dua  oknum polisi tersebut , melalui todongan pistol di kening Arjo Kawir dipaksa untuk ikut memperkosa Rona Merah, bukan nikmat yang ia rasakan namun cemooh dan ejekan  kedua polisi tersebut melihat burung kecilnya mengkeret dan tak bisa ngaceng. Itu awal burung kecilnya tertidur lelap hingga beranjak dewasa.

Eka Kurniawan mengawali dengan sebuah tragedi  yang dialami Arjo Kawir yang membawa dampak dan karakternya nanti ketika beranjak dewasa, cerita berlanjut ketika Arjo Kawir mencoba membangunkan burung kecilnya, mulai dari mengoleskan ulekan cabe rawit, sengatan lebah, namun semua sia-sia hanya kesakitan yang ia rasakan, hal ini membuat  Iwan Angsa bapaknya Si Tokek ikut kasihan ahirnya ia mencoba membawa Arjo Kawir ke lokalisasi pinggiran untuk membangkitkan sahwatnya namun semua sia-sia., burungnya masih terlelap dalam kesunyianya , hal ini membuat Si Tokek turut merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Arjo Kawir.

Menyadari burungnya tidak dapat berdiri ia memulai  mengiklaskan diri dan memilih jalan sunyi berpetualang  dengan berkelahi menghilangkan frustasi yang berkecamuk dalam hidupnya. Ia mencari si macan jagoan kampong sebelah dan ingin membunuhnya atas perintah Paman Gembul.
“Hanya orang yang enggak bisa ngaceng bisa berkelahi tanpa takut mati “ kata Iwan Angsa

Pertemuan dengan Ietung anak buah Pak Lebe  pengusaha tambak yang ingin dibunuhnya pada satu perkelahian membuatnya ia jatuh cinta, apalah artinya cinta ketika burungnya tetap tertidur, walau begitu ietung juga menncintainya dan ahirnya mereka menikah. Nikah tanpa hubungan layaknya suami istri adalah petaka tersendiri bagi keduanya, suatu hari Ietung hamil membuat Arjo kawir kecewa dan menyakini ada laki-laki lain yang menghamili Ietung.

Kekecewaannya membawa ia berpetualang menjadi sopir truk antar lintas sumatra, di sana ia bertemu dengan Mono Ompong yang menjadi kernet truknya. Pertentangan Mono Ompong dan si Kumbang  rekan sesama sopir truk membawa pada sebuah perkelahian duel antar hidup dan mati bertaruh akan sebuah harga diri, walaupun sebenarnnya Mono Ompong tak memiliki keberanian , namun ia mampu mengalahkan Si Kumbang.

Lama Arjo Kawir meninggalkan Ietung dengan anak perempuannya yang kini ia sangat sayangi, hanya foto gadis kecil pemeberian Si Tokek yang menginggatkan Arjo Kawir akan anak perempuanya, foto-foto itu  ia tempel di langit-langit ruang kemudinya mengobati kerinduan  yang ia rasakan,

Arjo Kawir juga bertemu dengan tokoh Jelita, perempuan yang digambarkan secara tidak menarik, namun selalu hadir dalam mimpinya dan anehnya dalam mimpi-mimpi  Jelita membuat burungnya  bisa ngaceng, tidak begitu jelas siapa Jelita sebenarnya, yang pasti ia bisa membangkitkan burung dan sempat bercinta dengannya di suatu subuh.

Eka Kurniawan bermain kata dengan sangat bebasnya yang mungkin bagi sebagian orang terlihat tabu/ saru, namun bagi saya itu lah kebebasan berfikir sang penulisnya, kebebasan untuk menggunakan kata yang menurut penulisnya pas dan cocok dengan keadaan yang ingin digambarkan dan diceritakan, maka tulisan perek, lonte,memek pelacur, ngaceng mengalir dengan bebasnya.

Ada yang khas disetiap membaca karya Mas Eka cerita yang detail, sedikit saru namun seru alur yang meloncat-loncat menambah cerita ini semakin berisi. Bagiku kehebatan Eka Kurniawan merangkai kata sehingga pembaca merasa tahu-tahu lembaran terahir novelnya sudah selesai. Sudah tak diragukan lagi kualitas karya sastra seorang Eka Kurniawan.
Novel setebal 242 halaman ini mampu mengisi  liburanku disela-sela menikmati pagi dengan secangkir kopi hangat.

Diahir cerita burung kecil Arjo Kawir bisa ereksi kembali setelah perjalanan panjang dan dalam tidur lelapnya setelah ia bertemu jelita, ia kembali menemui gadis kecilnya , disaat burung kecilnya bisa ngaceng kembali ietung di penjara karena membunuh kedua polisi yang memperkosa Rona merah .dan ia kembali tersiksa dalam penantian menunggu kepulangan Ietung entah akan berapa lama lagi.

“Tolol, aku tak bisa memberimu apa-apa. Isrimu pergi dan tak tahu akan ditahan berapa lama kali ini. Ia membunuh dua polisi.”
“Aku akan bersabar menunggunya, seperti kau bersabar menungguku bangun, Tuan, bolehkah sementara menunggu, aku tidur lagi?”


No comments:

Post a Comment