Apa yang kita rasakan
ketika burung kecilmu tidak bisa bagun disetiap pagi, atau tertidur ketika
melihat kemolekan tubuh lawan jenismu?
Sedih, cemas,
kecewa, putus asa,mungkin yang akan kita rasakan, menginggat burung kecilmu adalah masa depanmu,
hal itu lah yang dialami Arjo Kawir tokoh utama dalam novel Seperti Dendam
Rindu Harus Dibalas Tuntas karya Eka Kurniawan.
Novel ini bercerita
tentang jalan sunyi sebuah kelamin yang tidak bisa ereksi, tentang petualangan,
cinta dan tentang mkna akan sebuah hidup. Mas Eka mampu mengolah dengan apik
cerita novel yang tak terlalu tebal ini.
Betapa Arjo Kawir
begitu frustasi melihat burung kecil
kesayanganya selalu tertidur dalam kedamaian, lama tanpa terusik untuk bangun,
tiidur dalam lelap yang tak berkesudahan.
Tragedi itu
diawali ketika keisengan dan hasrat nakal sebagai remaja Arjo Kawir dan Si Tokek
yang masih begitu menggebu saat melihat pergumulan antara lelaki dan perempuan
dalam satu permainan hebat. Saat mereka bosan dan menemukan kejadian yang
lebih hebat dari sekedar mengintip
pergumulan istri pak RT, Yaitu ketika mereka mengintip Rona Merah perempuan
setengah gila mantan istri perampok
bernama Agus Klobot yang diperkosa oleh dua oknum polisi di gubuk terpencilnya.
Ketika Arjo Kawir tertangkap saat mereka kepergok oleh dua oknum polisi tersebut , melalui todongan
pistol di kening Arjo Kawir dipaksa untuk ikut memperkosa Rona Merah, bukan
nikmat yang ia rasakan namun cemooh dan ejekan
kedua polisi tersebut melihat burung kecilnya mengkeret dan tak bisa
ngaceng. Itu awal burung kecilnya tertidur lelap hingga beranjak dewasa.
Eka Kurniawan
mengawali dengan sebuah tragedi yang
dialami Arjo Kawir yang membawa dampak dan karakternya nanti ketika beranjak dewasa,
cerita berlanjut ketika Arjo Kawir mencoba membangunkan burung kecilnya, mulai
dari mengoleskan ulekan cabe rawit, sengatan lebah, namun semua sia-sia hanya
kesakitan yang ia rasakan, hal ini membuat Iwan Angsa bapaknya Si Tokek ikut kasihan
ahirnya ia mencoba membawa Arjo Kawir ke lokalisasi pinggiran untuk
membangkitkan sahwatnya namun semua sia-sia., burungnya masih terlelap dalam
kesunyianya , hal ini membuat Si Tokek turut merasa bersalah atas kejadian yang
menimpa Arjo Kawir.
Menyadari
burungnya tidak dapat berdiri ia memulai mengiklaskan diri dan memilih jalan sunyi berpetualang
dengan berkelahi menghilangkan frustasi
yang berkecamuk dalam hidupnya. Ia mencari si macan jagoan kampong sebelah dan
ingin membunuhnya atas perintah Paman Gembul.
“Hanya orang yang enggak bisa ngaceng bisa berkelahi
tanpa takut mati “ kata
Iwan Angsa
Pertemuan dengan
Ietung anak buah Pak Lebe pengusaha
tambak yang ingin dibunuhnya pada satu perkelahian membuatnya ia jatuh cinta, apalah
artinya cinta ketika burungnya tetap tertidur, walau begitu ietung juga menncintainya
dan ahirnya mereka menikah. Nikah tanpa hubungan layaknya suami istri adalah
petaka tersendiri bagi keduanya, suatu hari Ietung hamil membuat Arjo kawir
kecewa dan menyakini ada laki-laki lain yang menghamili Ietung.
Kekecewaannya
membawa ia berpetualang menjadi sopir truk antar lintas sumatra, di sana ia
bertemu dengan Mono Ompong yang menjadi kernet truknya. Pertentangan Mono
Ompong dan si Kumbang rekan sesama sopir
truk membawa pada sebuah perkelahian duel antar hidup dan mati bertaruh akan
sebuah harga diri, walaupun sebenarnnya Mono Ompong tak memiliki keberanian ,
namun ia mampu mengalahkan Si Kumbang.
Lama Arjo Kawir
meninggalkan Ietung dengan anak perempuannya yang kini ia sangat sayangi, hanya
foto gadis kecil pemeberian Si Tokek yang menginggatkan Arjo Kawir akan anak perempuanya,
foto-foto itu ia tempel di langit-langit
ruang kemudinya mengobati kerinduan yang
ia rasakan,
Arjo Kawir juga
bertemu dengan tokoh Jelita, perempuan yang digambarkan secara tidak menarik,
namun selalu hadir dalam mimpinya dan anehnya dalam mimpi-mimpi Jelita membuat burungnya bisa ngaceng, tidak begitu jelas siapa Jelita
sebenarnya, yang pasti ia bisa membangkitkan burung dan sempat bercinta
dengannya di suatu subuh.
Eka Kurniawan
bermain kata dengan sangat bebasnya yang mungkin bagi sebagian orang terlihat
tabu/ saru, namun bagi saya itu lah kebebasan berfikir sang penulisnya,
kebebasan untuk menggunakan kata yang menurut penulisnya pas dan cocok dengan
keadaan yang ingin digambarkan dan diceritakan, maka tulisan perek, lonte,memek
pelacur, ngaceng mengalir dengan bebasnya.
Ada yang khas
disetiap membaca karya Mas Eka cerita yang detail, sedikit saru namun seru alur
yang meloncat-loncat menambah cerita ini semakin berisi. Bagiku kehebatan Eka Kurniawan
merangkai kata sehingga pembaca merasa tahu-tahu lembaran terahir novelnya
sudah selesai. Sudah tak diragukan lagi kualitas karya sastra seorang Eka Kurniawan.
Novel setebal
242 halaman ini mampu mengisi liburanku
disela-sela menikmati pagi dengan secangkir kopi hangat.
Diahir cerita
burung kecil Arjo Kawir bisa ereksi kembali setelah perjalanan panjang dan
dalam tidur lelapnya setelah ia bertemu jelita, ia kembali menemui gadis kecilnya
, disaat burung kecilnya bisa ngaceng kembali ietung di penjara karena membunuh
kedua polisi yang memperkosa Rona merah .dan ia kembali tersiksa dalam
penantian menunggu kepulangan Ietung entah akan berapa lama lagi.
“Tolol, aku tak bisa
memberimu apa-apa. Isrimu pergi dan tak tahu akan ditahan berapa lama kali ini.
Ia membunuh dua polisi.”
“Aku akan bersabar
menunggunya, seperti kau bersabar menungguku bangun, Tuan, bolehkah sementara
menunggu, aku tidur lagi?”
No comments:
Post a Comment