Judul Buku : Rumah Kaca
Penulis : Pramodya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
"Nuraniku
tergoncang. Apa yang harus kulakukan terhadap dia? Dia bukan penjahat, bukan
pemberontak...Dia hanya terlalu mencintai bangsa tanah airnya Hindia..."
(hlm. 7).
Secangkir kopi pagi ini menemaniku dalam menulis
review sebuah roman berjudul “Rumah Kaca”
karya Pramoedya Ananta Toer.
Rumah Kaca merupakan roman ke-4 nya Pramodya Ananta
Toer yang menggambarkan sebuah kehidupan di Hindia Belanda pada masa Kolonial, melengkap episode dari
roman sebelumnya yaitu Bumi Manusia, Anak
Semua Bangsa dan Jejak Langkah.
Roman ini mengisahkan tentang seoarang mantan
komisaris polisi bernama Jacques
Pangemanann yang bekerja di Algemene
Secretarie bertugas mengawasi situasi sosial politik dan mengawsi tokoh-tokoh
dan organisasi pribumi untuk selanjutnya menganalisa dan menyampaikan kesimpulan untuk diserahkan
kepada Gubenur Jendral sebagai bahan
pertimbangan dalam mengambil sebuah kebijakkan di Hindia.
Pada awalnya Pangemanann adalah pribadi yang
berintegritas, yang berjalan di jalan yang dikehendaki Tuhan. Ia memiliki
segalanya: jabatan, nama baik, istri dan anak-anak yang mencintainya. Namun
kesempurnaan itu perlahan mulai memudar ketika ia mulai bekerja di Algemene Secretarie dan terlibat dalam
pemberangusan organisasi dan tokoh nasionalis.
Ada kegelisahan
, ada pertentangan batin dan nuraninya ketika ia begitu mengagumi tokoh-tokoh
pribumi, seperti Minke, Soewardi
Soerjaningrat, Douwes Dekker, Markodikromo, Siti Soendari,dll yang berjuang demi
bangsanya, namun ia juga yang membuat mereka terbungkam karena aktivitas politiknya, terbuang dari
orang-orang yang mencintainya.
Sebagai pejabat pemerintah ia hanyalah sebagai budak
Kolonial yang tak mampu melawan
nuraninya, ia harus taat atas kewajiban yang diembankannya. Rumah Kaca menyimbolkan kekuasaan untuk
mengawasi, memata-matai dan selanjutnya mencari cara untuk membungkam aktivis
yang vokal terhadap kebijakan pemerintah Kolonial yang dianggap merugikan.
Berbeda dengan ketiga roman sebelumnya yang mengambil
sudut pandang dari tokoh Minke, Rumah
Kaca bercerita dari sisi Jecques
Pangemanann. Bercerita akan kegelisahan, nurani yang terenggut, kehilangan
keluarga yang dicintai, disatu sisi ia juga bercerita tentang keberhasilan
melemahkan organisasi nasionalis dengan tokoh-tokoh di dalamnya.
“Tak
ada manusia yang bisa terbebas dari kekuasaan sesamanya, kecuali mereka yang
tersisihkan karena gila. Bahkan pertam-tama mereka yang membuang diri, seorang
diri di tengah-tengah hutan atau samudra masih membawa padanya sisa-sisa
kkeuasaan sesamanya. Dan selama ada yang diperintah dan memrintah, dikuasai dan
menguasai, orang berpolitik. (Minke hal 563)
Pada akhir-akhir bab sekilas Bumi Manusia hadir ketika ia
menjemput dan menyambut kedatangan kembali tokoh yang terbuang yaitu Minke. Gejolak
hatinya begitu tak menentu ketika bertemu dengan orang yang ia kagumi sekaligus
orang yang ia buang.
Tokoh minke kembali hadir, bersama kenangan yang
dilaluinya pada Bumi manusia,kembali
menjadi manusia bebas namun semua sudah berubah, ia kehilangan teman dan
sahabat, kehilangan harta benda, terpenjara dalam kesepian dan kesendirian. Kehidupan yang dulu penuh gelora aktivitas politik
kini tinggal kehampaan, dan dalam bab ini diceritakan kematian sang Minke
secara dramatis. Kematiannya yang sunyi dan tanpa pemberitaan, dan ia mati
meninggalkan perubahan pada bangsanya ,kelak apa yang ia perjuangkan akan terus
hidup terutama oleh orang-orang yang begitu cinta terhadap tanah air dan bangsanya.
@@
Roman setebal 656 ini mampu mengisi liburanku, teman secangkir kopi rasanya belum cukup untuk menemaniku dalam menyelami karya sastra ini. Rumah kaca mampu membuatku kembali ke masa lalu masa dimana bangsaku masih tertatih dalam menjalani kehidupanya, bersama tokoh-tokoh perintis perubahan merekalah orang yang begitu mencintai tanah airnya.
Ku tutup Rumah Kaca bersamaan dengan habisnya kopi
dalam cangkir keduaku.
Banyak nilai yang bisa diambil nilai akan Nasionalisme, Kecintaan pada Bangsanya, Pertentangan nurani, Pentingnya untuk menulis, tak
perduli akan apa yang terjadi nanti bahwa berusaha untuk mengubah nasib dengan
tindakan adalah sebuah keharusan.
Kita
semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan
manusia yang tak mampu lagi berkembang, karena manusia juga bisa membikin
kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang yang mau membikin
kenyatan-kenyataan baru, maka kemajuan
sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia (hal
584-585)
Deposuit
Potentes de Sede et Exaltavat Humiles. Dia
Rendahkan Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka yang Terhina.(Pramodya Ananta
Toer)
No comments:
Post a Comment